Di Bawah Langit Ramadhan: Jamaah Itikaf Menjemput Lailatul Qadar di Masjid Markaz Al Iman

Hendriansah
0

 

Menjemput Lailatul Qadar: Ratusan Jamaah Hidupkan Itikaf Malam 27 Ramadhan di Masjid Markaz Al Iman Cipansor.

KIM Cyber Calingcing- Cipansor,  — Di sebuah sudut pesantren yang tenang di wilayah Cipansor, cahaya lampu masjid tetap menyala terang saat sebagian besar dunia terlelap. Pada malam ke-27 Ramadhan 1447 Hijriah, Masjid Markaz Al Iman Pondok Pesantren Cipansor menjadi saksi berkumpulnya santri dan jamaah yang menghidupkan malam dengan ibadah dalam rangka itikaf, tradisi spiritual umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Malam itu dimulai dengan buka puasa bersama, suasana sederhana namun hangat yang mempertemukan para jamaah dalam kebersamaan dan rasa syukur. Tak lama kemudian, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan takbir mengisi ruang masjid saat para jamaah melaksanakan shalat tarawih berjamaah.

Kegiatan dipandu oleh Ustadz Rizkon Hakiki, Lc., yang bertindak sebagai pembawa acara, menjaga alur kegiatan tetap tertib dan penuh khidmat. 

Dalam sambutannya, Ustadz Sauqi Sya'bani, Lc., M.A. mengingatkan para jamaah tentang makna malam-malam terakhir Ramadhan yang diyakini sebagai waktu turunnya keberkahan terbesar bagi umat Islam.

“Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan langka yang tidak selalu datang dua kali dalam hidup kita. Di sinilah umat Islam berusaha meraih Lailatul Qadar,” tuturnya di hadapan para jamaah.

Ustadz Dadang Bunyamin memberikan nasehat menyentuh tentang Ilmu

Suasana semakin khusyuk saat Ustadz Dadang Bunyamin menyampaikan kajian tentang makna itikaf dan pentingnya menjadikan ilmu sebagai pedoman hidup.

Dengan suara tenang namun penuh penekanan, beliau menyampaikan pesan yang menjadi inti dari tausiyah malam itu:

“Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan.”

Jemaah fokus mendengarkan nasehat

Pesan tersebut menggema di tengah jamaah yang mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah menjadi pengingat bahwa nilai ilmu tidak hanya terletak pada pemahaman, tetapi juga pada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Memasuki malam yang semakin larut, jamaah melanjutkan ibadah dengan tilawah Al-Qur’an bersama dari pukul 22.00 hingga 23.00. Lantunan ayat suci memenuhi ruang masjid, menciptakan suasana yang hening sekaligus menenangkan.

Beberapa jam kemudian, ketika malam memasuki sepertiga terakhir—waktu yang dalam tradisi Islam diyakini sebagai saat paling mustajab untuk berdoa—para jamaah kembali berkumpul.

Jemaah melaksanakan sholat qiamullail

Pada pukul 02.00 dini hari, mereka berdiri bersama dalam shalat qiyamul lail dan witir berjamaah hingga pukul 03.30. Dalam keheningan malam, doa-doa dipanjatkan, sebagian dengan suara lirih, sebagian lagi dengan air mata harapan.

Jemaah melaksanakan makan sahur bersama

Usai ibadah malam, jamaah berkumpul kembali untuk sahur bersama, sebuah momen sederhana yang mempererat kebersamaan di antara para peserta itikaf.

Ketika fajar mulai menyingsing, kegiatan dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah, kemudian dzikir pagi yang dilantunkan bersama sebagai penutup malam ibadah.

Sebelum beranjak meninggalkan masjid, para jamaah saling berjabat tangan dalam mushofahah, sebuah tradisi sederhana yang mengandung makna mendalam: saling memaafkan, mempererat ukhuwah, dan mendoakan satu sama lain.

Di tengah dunia yang sering kali sibuk dan hiruk pikuk, malam di Masjid Markaz Al Iman menjadi pengingat bahwa masih ada tempat di mana manusia berhenti sejenak dari urusan dunia, menundukkan kepala, dan kembali kepada Tuhannya.

Bagi para jamaah yang hadir malam itu, harapan mereka sederhana namun sangat besar: semoga Allah mempertemukan mereka dengan Lailatul Qadar, malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan, malam di mana doa-doa diyakini lebih dekat untuk dikabulkan.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default